Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Desember 2009

TIGA BELAS

Masa kecil yang aku alami memang penuh dengan kebahagiaan. Aku dibesarkan dalam keluarga yang cukup harmonis. Aku memang anak yang dimanja, namun apa mungkin kepribadianku saat ini merupakan akibat dari apa yang aku alami di masa lalu. Memang seh aku harus berpikir realistis karena dulu aku memang anak yang dimanja jadi ya seperti inilah diriku di usiaku yang bukan anak-anak lagi tapi bukan juga seorang remaja.

Namaku adalah Aldira Andika, aku merupakan anak yang cukup beruntung didunia ini. Hidupku tidak begitu sulit dibandingkan dengan anak-anak lainnya yang terlihat tidak bahagia di usianya. Aku tidak pernah membayangkan bahwa apa yang aku alami di usiaku ini menjadi hal yang penting dalam pembentukkan karakterku. Ya mungkin itu memang benar tapi aku sendiri selalu menyangkal hal tersebut seolah-olah aku sudah nyaman dengan semua yang aku miliki. Kau mungkin bertanya-tanya mengapa aku selalu tidak pernah mau tahu dengan apa yang aku kerjakan sekarang, ya entah itu baik atau buruk yang jelas aku hidup hanya untuk bersenang-senang, ya untuk saat ini itulah yang aku alami sekarang. Usia ku memang ada pada masa yang entahlah dikategorikan kemana, yang jelas di usiaku yang ke tiga belas merupakan usia yang bisa cukup menyenangkan karena aku tidak perlu terlalu khawatir untuk memikirkan masa depanku seperti apa dan yang jelas bahwa hidupku tidak mengenal yang namanya kekhawatiran akan suatu hal. Ya, aku tidak perlu terlalu bersalah walaupun sudah melakukan kesalahan yang buruk dan aku pun tidak terlalu memikirkan pujian orang lain meski mungkin aku sudah berlaku sangat baik dengan melakukan suatu kebaikan. Ya, terserah apa yang aku mau lakukan, aku tidak akan terlalu memikirkannya, apa lagi yang bukan menjadi urusanku.

Seperti hari-hari biasanya, aku melakukan sesuatu tanpa aku pikirkan lebih dahulu. Aku mulai berakting kembali sebagai anak jahil yang selalu menggangu teman-temanku. Ya anggap saja ini sebagai kesenangan dari ku, karena memang aku senang dengan kerjaanku yang pastinya membuat semua orang memarahi ku karena mereka merasa aku keterlaluan dalam menajahili mereka, tapi sekali lagi aku ingatkan bahwa aku tidak pernah peduli dengan omelan mereka, asalakan aku bahagia itulah yang akan aku lakukan.

Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah kembali. Setelah libur berhari-hari, yang cukup membuatku bosan dan gila dengan aktifitas ku yang pasif akhirnya aku bisa menemui teman-temanku di sekolah. Di pagi hari aku sudah bersiap-siap merapihkan ranjang tidurku. Dengan senyum manisku, aku sapa saudaraku yang memang tinggal satu rumah dengan ku, ya tentunya satu kamar denganku. Ya dia adalah saudara dekatku yang cukup bisa aku ajak ngobrol meskipun memang kita tidak pernah ngobrol banyak. Walaupun kita satu kamar dan yang pastinya dengan segala hal yang aku miliki merupakan milik bersama tapi tetap saja kami tidak pernah terlibat jauh dengan banyak hal, entah itu urusan pacar, keluarga, atau hal sepele seperti membicarakan film atau kegiatan sehari-hari. Tapi meskipun kami tidak pernah bisa berkomunikasi dengan baik, Ya tetap saja kan dia adalah saudaraku. Kami memang terpaut dua tahun, dan aku memang lebih muda dari nya. Sandi Putra, ya itulah nama saudaraku, dia memang baru menyelesaikan ujian akhir SMP dan sekarang waktunya banyak dihabiskan untuk bermain dibandingkan belajar seperti sebelumnya. Dia tidak cukup mirip denganku, tapi mungkin mungkin perbedaan itu cukup relative mengingat bahwa orang tua kami memang berbeda. Sandi bertubuh lebih kecil dari aku, dia lebih pendek beberapa centi dari aku. Banyak orang seh menganggap saya kagak normal karena postur tubuh saya ini. Aku memang memiliki tubuh yang tinggi dibanding dengan anak-anak seusiaku. Dengan rambut yang tidak cukup berbentuk aku tampak sedikit agak tua tapi banyak juga yang bilang kalau aku tidak bisa menyembunyikan sifat kekanak-kanakanku dan itu terlihat dari wajahku yang masih terlihat childish banget. Ya disinilah letak perbedaan aku dan Sandi. Tapi aku cukup nyaman dia tinggal di rumahku karena itu cukup membuatku tidak terlalu kesepian. Ya, tidak menutup kemungkinan juga kalau dia menjadi sasaran jahilku.Seperti di pagi hari ini.Ya aku memulainya dengan sapaan manisku.

“San, gak skull neh, dah bebas ya?”. Sapaku.

“ya, mau ngapain lagi,Al, ujian kan dah beres semua tinggal nunggu hasil jha”.jawab dia dengan malesnya.

“Ya udah knapa gak bresin rumah aja biar kagak kotor, sekalian ama kamar ini juga”.sapaku dengan sedikit tersenyum.

“Ah males, mending main diluar, bisa refreshing “.jawabnya singkat.

Obrolan kami memang pendek untuk aktifitas di pagi hari. Dari mulai bangun tidur sampai aku sudah bersiap-siap untuk berangkat sekolah, kami hanya melontarkan beberapa sapaan yang menurutku garing banget. Makanya aku sering membuat sedikit kekacauan di pagi hari. Ya biar kagak bosen dan monoton aku sering berbuat jahil ama Sandi. Kali ini ketika dia selesai menjawab pertanyaanku, dia hendak pergi mandi dan bergegas ke kamar mandi. Dia membawa handuk yang sudah aku pakai lebih dulu. Aku memang suka risih kalau barang-barang kami dipakai bersama. Ya langsung aja waktu tadi di kamar mandi tanpa pikir panjang, handuk yang sandi bawa sudah aku penuhi dengan lendir yang aku keluarkan banyak dari hidungku. Kebetulan saja seh aku sedang sedikit flu, jadi mau gak mau aku harus berusaha mengeluarkannya dengan menggunakan handuk sebagai medianya. Tadinya aku memang mau memberi tahu dia agar kagak menggunakan handuk itu, tapi karena aku memang tidak pernah suka dengan hal yang biasa, ya sudah aku biarkan saja dia menjadi sasaran jahil pertamaku di hari senin yang monoton ini. Dan itu cukup menyenangkan bagiku.

Aku gak pernah tahu knapa Sandi bisa mengahabiskan waktu yang lama untuk berdiam diri di dalam kamar mandi. Biasanya dia memang membutuhkan waktu lima belas sampai dua puluh menit untuk menyelesaikan mandi perfectnya itu. Sementara Aku menunggu Sandi menyelesaikan mandinya, aku sudah tertawa-tawa kecil karena membayangkan dia selesai mandi dan menggunakan handuk aku buat membilas seluruh badannya. Pasti bakalan heboh.

Setelah lama menunggu, pintu kamar mandi pun terbuka dengan kerasnya. Dan suara langkah kakipun terdengar melangkah kearahku. Sambil menunggu Sandi mandi aku memang berdiam diri di dalam kamar. Sambil tidur-tiduran aku mulai melirik kearah pintu kamar karena aku tahu Sandi pasti sudah selesai mandi. Tiba-tiba saja langkah kaki itu semakin terasa cepat sampai aku terkaget ketika pintu kamarku didorong dengan kerasnya. Langsung saja aku bangun dan berdiri mengarah ke pintu sambil berteriak.

“hay, yang bener dong, kalau buka pintu,gak bisa pelan apa?”.teriakku sambil mendekati pintu kamar.

“Aldira,apa-apaan ini, handuk bukannya ditaruh kalau kotor malah digantungin di kamar mandi,lihat nih muka bapak jadi penuh sama lendir.”jawab bapakku dengan marah.

“bapak, tapi kan yang pakai handuk itu, ya Sandi dan harusnya kan emang Sandi yang pakai”.sahutku dengan shock.

“Ah, dasar anak nakal, jahil aja kerjaannya, gak ada apa yang lebih penting yang bisa dikerjain, taw gak gara-gara ini bapak harus mandi lagi dan bikin bapak kesiangan, pokoknya kamu hari ini gak bapak anterin”.

Wah dunia tiba-tiba saja runtuh dan seakan-akan semua kebahagiaanku hilang begitu saja. Apa yang saya perbuat, kenapa bisa berantakan di hari pertama saya sekolah. Ini benar-benar membuatku tambah bosan, dipagi hari sudah dimarahi oleh bapak. Ya dengan terpaksa dong saya harus buru-buru pergi ke sekolah sendiri. Sementara bapak ngomel sendiri di kamarnya, saya keluar kamar sambil mencari Sandi. Dari arah belakang tiba-tiba saja ada yang memegang pundakku.

“Al, ko buru-buru amat mang udah kesiangan ya”

“Sandi, kamu lum mandi?,,tapi kan tadi kamu udah bawa handuk aku”.jawabku dengan heran.

“ouw ya tadinya aku mau mandi,cuman kan bapak kamu buru-buru jadi aku dah gak sempat”.jawabnya dengan polos.

“terus knapa bapak aku bisa pakai handuk punya aku?”.teriakku dengan kesal.

“ya, gak tau aku kan sempat naruh itu handuk di kamar mandi jadi yah gak tau kalo bapak kamu pakai juga,mangnya knapa?”

“ehm, ya gak she,,,,cuman,,,,mau mastiin aja,,,,,ko bukan kamu yang pake,,,,tadinya seh aku cuman mau,,?.

“mau apa Al…?”jawabnya dengan heran

Aku sempat berpikir kalau ngomongin ini dah gak ada lagi gunanya, ya sudah aku gak jadi untuk membeberkannya. Tapi Sandi masih tetap penasaran….ya apa boleh buat terpaksa dengan manisnya aku berbohong.

“eah, gak pa-pa ko, cuman mau bilang kalau handuknya masih bisa dipake meskipun ada sedikit ya….ya sedikit kotor lah,,,”

Di pagi hari aku sudah melakukan kesalahan. Tapi itu sih wajar karena aku emang keterlaluan. Masalahnya sekarang bukan lagi tentang handuk, tapi bagaimana caranya agar aku kagak datang terlambat ke sekolah. Aku sempat berpikir sejenak,namun apa yang harus aku pikirkan. Dengan tergesa-gesa kemudian aku menuruni anak tangga satu demi satu. Maklum lah semua sentral kegiatan keluarga di rumah ini ada di lantai dua termasuk kamar aku dan Sandi. Jadi inilah yang terjadi kalau aku benar-benar kesiangan. Terburu-buru sampai aku tidak sempat lagi mengingat-ingat apa saja yang harus aku bawa ke sekolah. Semuanya mengalir bagaikan air, tenang tapi suatu saat bisa menghanyutkan.


simple guy

1

Simple Guy

Show must go on…

Perkataan itu memang benar adanya bahwa hidup ini harus terus berjalan meskipun banyak rintangan yang menghadang. Begitulah hidup kadang realita yang ada tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Ya, tentu saja dari masa ke masa terus berjalan sampai kita tahu bahwa waktu tidak mungkin bisa kembali. Begitu juga dengan semua yang terjadi dalam hidup gw. Terkadang mimpi untuk menjadi seorang manusia yang sempurna itu dapat terjadi begitu saja , namun banyak berjuta alasan sampai hal tersebut mungkin tidak akan pernah terjadi. Gw adalah sosok simple yang tidak banyak basa-basi dalam segala hal. Itulah mungkin yang membuat sohib-sohib juga memanggil gw dengan sebutan si cowok simple dengan dandanan yang gak pernah masuk kategori cowok keren apalagi ternarsis. Memang hal itu bisa diakui karena pada kenyataannya seperti itu. Terbukti dong dengan rambut gw yang gak pernah dirawat untuk beberapa waktu tertentu dan dengan pakaian yang serba acak-acakan ditambah dengan gaya bicara yang tentunya mengundang banyak pertanyaan bagi mereka. Apakah gw benar-benar sudah berusia 18 tahun atau jangan-jangan masih dibawah 15 tahun. Ya, pertanyaan itulah yang mungkin masih menjadi tanda besar bagi mereka yang memang selalu ingin tahu tentang diri gw. Mereka memang masih menggangap kalau teman mereka yang jenisnya seperti gw ini adalah makhluk aneh yang harus selalu menjadi bahan ejekan mereka. Untungnya seh gw masih cukup terselamatkan dengan tidak pernah mau memakai kaca mata jadul yang secara umum memang selalu dipakai oleh sohib-sohib gw yang sama jenisnya. Gak ada duanya deh kalau ngomongin tentang kehidupan pribadi. Meskipun dapat digambarkan dengan jelas bahwa pada kenyataannya hidup ini memang penuh dengan misteri. Tak ada lagi yang bisa diperbuat untuk merubah diri karena samapi sekarang gw masih sangat nyaman dengan apa yang ada dalam diri. Dan tak masalah juga kalau orang lain mengganggap gw sebagai pribadi yang aneh. Mungkin mereka hanya iri saja karena tidak bisa sepercaya diri kayak gw ini. Apapun itu yang harus disyukuri adalah bahwa gw pun masih bisa menikmati hidup dengan keadaan seperti ini. Gak ada yang perlu dicemasin dan yang perlu di takuti karena inilah hidup dimana bisa merasakan semua hal tanpa adanya tekanan dari siapapun.

Hal pertama yang mesti gw lakukan adalah menjadi diri sendiri tanpa harus mengikuti apa kata orang. Ini memang selalu diterapkan dalam diri gw. Bisa dibilang semua hal termasuk dengan kehidupan pribadi gak ada satupun yang ditiru karena gw lebih rasional dalam berpkir, meskipun dibilang sebagai cowok simple tapi tidak membuat otak gw bekerja dengan simple justru malah bisa berpikir lebih disbanding mereka yang hanya mengandalkan tampang dan penampilan saja. Sangat tidak sebanding karena itu hanya membohongi diri sendiri saja. Bergelut masalah antara simplenya gw memang menjadi pusat perhatian banyak lapisan masyarakat.Ya, khususnya masyarakat dari kalangan otak mesum dan masyarakat yang menyebutkan diri mereka sebagai perkumpulan pemilik IP 2 sekian. Kedua kelompok yang gw anggap masyarakat yang gak ada bedanya sama kalangan menengah kebawah Karen gw berpikir bahwa apa yang menjadi kesenangan mereka bukan hanya banyaknya mereka membolos dalam kuliah tetapi juga karena mereka sangat suka dalam membuat gw terbelit masalah. Contohnya she memang banyak sekali kasus yang sudah mereka perbuat ke gw dan itupun hanya sekedar untuk membuat mereka happy. Salah satu kasus terberat yang dialami oleh gw adalah ketika gw pertama kali masuk kuliah. Pada hari dimana adanya ospek besar-besaran dari jurusan, Mereka justru malah membuat gw terjebak masalah besar. Mereka membawa gw ke suatu tempat yang sangat angker. Tepat di belakang kampus mereka seret gw dengan paksa menuju tempat tersebut.

“ Eh…tunggu dulu, gw mau dibawa kemana, bukannya qta lagia diospek,kan gak boleh kemana-mana”.

“aagh ospek apanya, gak ada apa-apanya dibandingkan ngerjain lho disisni, iya gak bro!”.ujar si ketua geng mereka yang bernama Nino.

“yoi..yoi..fren…”.sahut Rizal yang datang sambil membawa tali di tangannya.

“Kita apakan neh bocah, enaknya kita kubur hidup-hidup atau kita mutilasi aja biar gak ada yang ngenalin lagi”.ujar Lutfy salah satu teman mereka yang menurut cewek-cewek she paling cakep.

“ya..ya...ya..untuk kali ini kita gak usah repot-repot buat ngerjain dia, iya gak simple boy”. Nino berkata kearah gw sambil menunujukkan telunjuknya ka arah muka gw yang tent saja dengan nafsunya yang bagaikan hendak memangsa buruannya.

“Eegh, bro emangnya lho mau ngerajin apa lagi hah”.sahut rizal yang sudah siap untuk mengikatkan tali ketangan gw.

“masa lho gak bisa ngerti apa yang kita maksud dari tadi, dasar lho mang pintar diantara kita tapi suka rada lemot”sahut lutfy dengan nada yang agak kesal.

“Emang she karena itu gw nanya mau ngapain kita”.Rizal pun berucap dengan wajah tanpa dosa.

“Way…qta disini bukan untuk rebut tapi buat mastiin kalau si bocah ini bisa kita kerjain dan gw mau dia dikurung selama satu malam di gudang ini tanpa ada siapapun didalam kecuali para hantu yang bakal jadi teman tidurnya”. Sahut Nino dengan nada lantangnya.

Inilah penderitaan gw yang harus bayak menghabiskan waktu untuk menerima ejekan bahkan menjadi bahan mainan mereka yang so penguasa itu. Memang sudah dari SMA mereka selalu ngerjain gw dengan berbagai macam kasus. Mereka bertiga memang selalu menjadi penguasa dan selalu bertindak tanpa hati bagaikan hewan liar yang kagak pernah ngerti apa itu namanya toleransi. Nino misalnya dia adalah cowok beken yang selalu menjadi rebutan para cewek di sekolah bahkan sekarang di kampus sudah menjadi bintang kampus. Hal itu sangatlah mungkin karena Nino adalah seorang atlet basket yang selalu membawa nama baik kampus tapi tidak dengan kelakuannya yang selalu membawa citra buruk khusunya bagi gw salah satu korban keganasannya. Dia memang tipe cowok atletis dengan tinggi 178 cm dia mampu menghipnotis korban wanita nya untuk mau menjadi kekasih hatinya. Tampangnya she gak cakep-cakep amat tapi kepopulerannya itu lah mungkin ynag membuat dia menjadi sang idola kampus dalam sekejap. Berbeda dengan Nino, Lutfy adalah tipe cowok yang menurut gw she masih sangat misterius, Ya kalau gw jadi dia she gw pasti udah banyak punya cewek dimana-mana. Dengan kata lain dia adalah cowok paling tampan di kampus dan juga paling kaya pastinya. Dia bisa membeli apapun yang ia mau tapi gw jadi semakin penasaran juga kenapa sampai sekarang dia gak punya cewek. Itulah yang masih menjadi tanda tanya besar sebagian mahasiswa dan mahasiswi di kampus. Dan yang gak kalah populernya adalah si cowok paling manis di kampus yaitu Rizal. Dia berbeda dengan kedua temannya yang so narsis, Rizal adalah tipe cowok pendiam namun liar artinya dia bagaikan cowok bersifat ganda. Bayangkan saja di dalam kampus ia terlihat alim dengan prestasi belajarnya yang gemilang sampai-sampai ia dinobatkan sebagai mahasiswa teladan di kampus. Tapi pada kenyataanya itu hanya kamuflasi dia belaka karena di luar kampus ia menjadi cowok brutal yang gak pernah kenal dengan yang namanya kompromi apalagi toleransi. Itulah kenapa Rizal pun termasuk cowok yang masuk geng Nino dan Lutfy yang suka juga dengan kekerasan yang bisa dibilang salah satu obsesinya adalah mungkin membuat gw menderita.

Balik lagi ke masalah penderitaan gw di kampus. Setelah mereka sepakat mengenai penderitaan apa yang harus gw alami, mereka langsung bergegas untuk ngerjain gw. Rizal yang sudah mengikat tangan gw dengan tali yang dibawanya mulai menyeretku ke dalam gudang dengan penuh semangat. Begitu juga dengan Nino yang memiliki ide untuk membuat gw menderita selama semalam di gudang kampus. Dan yang bikin gw lebih menderita adalah tindakan Lutfy yang memaksa gw buat membuka baju.Lengkap sudah penderitaan gw pada waktu itu. Gak ada yang bisa diperbuat dan gak ada satupun yang bisa membantu gw. Dengan terus memikirkan kembali perbuatan mereka selalu membuat gw kapok untuk dekat-dekat dengan mereka. Ya, itu adalah penderitaan gw yang sangat brutal karena dengan disekap selama satu malam di gudang kampus sudah membuat gw ketakutan yang luar biasa. Namun penderitaan itu sudah berakhir keesokan paginya. Gw disadarkan oleh sahabat gw yang bernama Andi. Karena saking takutnya gw jatuh pingsan selama semalaman. Untung ada sahabat gw yang selalu membantu ketika gw terlibat banyak masalah di kampus. Andi adalah sosok yang sangat baik. Dia adalah cowok pintar yang bisa dibilang cowok tampan kedua setelah Lutfy. Dia memang berasal dari kalangan atas dengan kekayaan yang berlimpah namun tidak pernah terllihat sombong ataupun pilih-pilih teman karena selama gw kenal sama dia gak ada yang berubah dari dia bahwa sosoknya tetap sebagai cowok ramah dan baik. Dan khusunya neh ketika gw terlibat dengan tiga cowok musuh gw itu, Dia selalu jadi orang yang selalu membela gw. Pokoknya gak ada lagi cowok yang ramah seperti sahabat gw itu.He is a perfect guy!

Gw dan andi sudah bersahabat semenjak awal perkuliahan. Meskipun kita berbeda jurusan tetapi tidak membua kita untuk tidak saling kenal satu sama lainnya. Pertemuan itu diawali ketika kita sedang berada di satu aula guna mendengarkan beberapa pengumuman seputar dunia perkuliahan. Pada waktu itu gw sedang tidak enak badan alias sakit. Si Andi yang terus memperhatikan gw pun akhinya menyapa gw.

“ehh lho sakit ya…dari tadi gw perhatiin lho bersin-bersin”

Memang she secara udah dua hari sebelum kegiatan itu dimulai gw udah teserang penyakit flu karena sering kehujanan. Da gw pun menjawab sapaannya.

“oug,ya…tapi tak apalah, tidak terlalu parah ini” jawab gw dengan ramah sedikit kekanak-kanakan.

“Tapi knapa lho datang kesini, kan gak ada ruginya bolos satu atau dua hari”sahut dia dengan sopan.

“oogh, tentu saja…tapi gw gak pernah suka ninggalin moment-moment gw yang penting, Tp tunggu dulu deh kayaknya gw baru sekali ini ketemu ma lho, ya kan..”

“ouw ya sorry nama gw Andi Nugraha, Gw sebenarnya mahasiswa pindahan dari Surabaya, Gw anak komunikasi”

“ya.. pantas gw baru nyadar neh…ok nama gw Raden Mas Agus Tarmono putra dari keluarga Tarmono, keluarga terpandang di Yogyakarta”jawab gw dengan penuh percaya diri dan bangga.

“Ehmm, ok cukup menarik perkenalannya, and by the way lho anak mana?”

“ough..Gw ngambil jurusan Sastra Inggris dan gw mahasiswa baru disini”

“ehm kalaw begitu kita bisa saling melengkapi yuph karena mata kuliah kita sepertinya tidak terlalu beda”

“ou iya tentu saja”jawab gw dengan penuh suka cita.

Perkenalan yang singkat itupun menjadi awal dari jalinan persahabatan kita. Kini gw dan Andi sudah saling melengkapi. Ketika gw ada masalah dia selalu sigap untuk menolong dan begitu pun sebaliknya apabila dia kesandung beberapa masalah yang cukup rumit dia pun tidak segan untuk meminta bantuan ke gw. Dan waku memang sudah sangat tidak terasa, sudah satu tahun lamanya kami menjalin persahabatan dengan berbagai konflik permasalahan yang menghadang kami. Ya… tentu saja persahabatan yang terjalin pasti tidak begitu saja berjalan mulus. Kami berdua pun sering terbawa konflik dan banyak terlibat masalah namun dengan komitmen dan kesadaran masing-masing ari kami, akhirnya kami masih bisa menjalin persahabatan yang sangat mahal harganya apabila dilepas begitu saja. Perjalanan selama satu tahun itu pun cukup membuat gw sadar bahawa masih ada orang yang mau berteman dengan gw meskipun kondisinya tidak begitu memungkinkan gw untuk dapat orang yang bisa dipercaya. Inilah saatnya gw harus sedikit merubah diri dari yang biasa menjadi sosok yang luar biasa. Karena sudah selayaknya gw merubah diri tapi bukan berate merubah sifat dan tingkah laku tapi hanya sebagian kecil saja seperti cara dandan dan pakaian gw mungkin dan itupun gw rela lakuin karena saran dari Andi untuk membuat diri gw menjadi lebih baik. Katanya segh biar di semester tiga ini gw bisa menemukan cinta sejati gw yang sudah lama gw impikan. Meskipun begitu tetap saja seh masiih ada beberapa hal yang masih gw anggap canggung seperti berkenalan dengan cewek-cewek kampus atau bahkan mengajak mereka kencan. Hal tersebut memang mesih belum jauh gw pikirkan karena tentu saja gw ini sudah dinobatkan sebagai cowok simple. So, seberapa jauhpun gw merubah diri tetap saja orang-orang akan tetap mengangap gw sebagai si simple boy. Ya inilah gw si cowok simple yang gak pernah mau basa-basi busuk.